Linimasa medsos lagi rame banget sama momen wisuda UIN Alauddin Makassar. Bukan karena toga yang berhamburan atau foto selfie para sarjana, tapi karena aksi Rektor Prof. Hamdan Juhannis yang minta para wisudawan menyebut nama cleaning service dan satpam yang selama ini bekerja di kampus. Videonya viral, dibagikan ulang ribuan kali, dan menuai pro-kontra. Ada yang bilang ini pesan moral luar biasa, ada juga yang nyinyir bilang cuma gimmick. Om Lambe sih santai aja, yang jelas ini bukan sekadar seremoni, tapi tamparan halus buat kita semua yang sering lupa sama orang-orang di balik layar.

Kronologi Viral: Momen Haru di Auditorium UIN Alauddin

Kejadiannya berlangsung di Auditorium UIN Alauddin Makassar, Sabtu (14/9/2024) lalu. Dalam sambutannya di hadapan ratusan wisudawan, Prof. Hamdan tiba-tiba menghentikan pidato formalnya. Ia meminta para wisudawan untuk menoleh ke belakang, ke arah petugas kebersihan dan satpam yang berdiri di pinggir ruangan. "Sebut nama mereka satu per satu," ujarnya dengan nada tegas namun santai. Spontan suasana riuh. Ada yang teriak nama 'Pak Daeng', 'Bu Rahma', 'Pak Satpam', dan sebagainya. Rektor kemudian menjelaskan bahwa tanpa mereka, kampus ini nggak akan pernah bersih dan aman. Ia menyebut para lulusan sebagai 'sarjana anak tangga' yang harus tahu diri bahwa mereka berdiri di atas jasa banyak orang.

Potongan video berdurasi 1 menit 23 detik itu diunggah oleh akun TikTok @kampusupdate dan langsung meledak. Hingga berita ini ditulis, video tersebut sudah ditonton lebih dari 2,3 juta kali, dengan 45 ribu komentar dan 120 ribu suka. Warganet pun terbelah. Sebagian besar memuji, sebagian lagi menganggap ini cuma pencitraan. Tapi lepas dari pro-kontra, ada satu hal yang nggak bisa dipungkiri: pesan moralnya ngena banget.

Akar Masalah: Budaya Feodal dan Lupa Jasa Orang Kecil

Kenapa sih momen ini bisa viral? Karena kita hidup di masyarakat yang masih kental budaya feodal. Gelar sarjana sering dianggap tiket naik kelas sosial. Orang yang punya jabatan tinggi, pendidikan tinggi, atau kekayaan sering lupa bahwa ada banyak orang di bawah yang menopang hidup mereka. Cleaning service, satpam, sopir, tukang parkir, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang jarang disebut namanya. Mereka ada saat kita butuh, tapi sering dianggap 'tak terlihat' saat kita sudah sukses.

Dalam konteks psikologi sosial, fenomena ini disebut invisibility of low-status workers. Sebuah studi dari Harvard Business Review (2022) menunjukkan bahwa 68% pekerja di sektor kebersihan dan keamanan merasa tidak dihargai oleh rekan kerja atau atasan mereka. Mereka jarang dilibatkan dalam percakapan, jarang disebut namanya, dan sering dianggap 'bagian dari fasilitas' bukan manusia. Nah, apa yang dilakukan Rektor UIN Alauddin ini adalah antitesis dari fenomena tersebut. Ia memaksa para wisudawan untuk melihat dan menyebut nama mereka. Sebuah tindakan sederhana yang dampaknya luar biasa.

"Sarjana itu bukan raja yang duduk di singgasana. Sarjana itu anak tangga, yang tugasnya mengangkat orang lain, bukan menginjak mereka. Kalau kamu lupa siapa yang membersihkan toilet kampusmu, jangan harap kamu jadi pemimpin yang peduli." — Om Lambe Curah

Analisis Dampak: Etika Menghargai dan Efek Domino ke Dunia Kerja

Pesan 'sarjana anak tangga' ini sebenarnya bukan cuma soal moralitas. Ada implikasi besar buat dunia kerja dan kehidupan sosial kita. Generasi Z yang baru lulus dan masuk dunia kerja sering dihadapkan pada realitas bahwa gelar nggak menjamin segalanya. Soft skill seperti empati, komunikasi, dan menghargai orang lain justru lebih menentukan kesuksesan jangka panjang. Bayangkan kalau setiap lulusan universitas punya kesadaran ini, maka toxic workplace yang sering kita dengar di media sosial perlahan bisa terkikis.

Selain itu, dari sisi hukum ketenagakerjaan, menghargai pekerja informal dan formal itu bukan sekadar etika, tapi juga kewajiban. UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mengatur hak-hak pekerja, termasuk hak atas penghormatan dan perlakuan yang layak. Meskipun cleaning service dan satpam sering berstatus outsourcing, mereka tetap punya hak yang sama untuk dihargai. Jadi, apa yang dilakukan Rektor UIN Alauddin ini sejalan dengan semangat undang-undang tersebut.

Aspek Sebelum Viral Setelah Viral
Perhatian ke cleaning service Hampir tidak ada, hanya saat butuh Meningkat, banyak yang mulai menyapa
Diskusi di media sosial Jarang, hanya isu upah Ramai, jadi bahan renungan
Kesadaran mahasiswa Rendah, cenderung cuek Mulai tumbuh, banyak yang minta maaf
Kebijakan kampus Belum ada program khusus Wacana apresiasi tahunan

Dari tabel di atas, kelihatan bahwa efek viral ini cukup signifikan. Meskipun tidak bisa diukur secara kuantitatif dalam waktu singkat, setidaknya ada perubahan perilaku kecil di lingkungan kampus. Beberapa mahasiswa mengaku jadi lebih sering menyapa petugas kebersihan setelah melihat video tersebut. Itulah kekuatan media sosial ketika digunakan untuk hal positif.

Tips dan Solusi: Cara Menghargai Orang Terabaikan di Sekitar Kita

Buat kamu yang terinspirasi dan ingin mulai menghargai orang-orang di sekitar, ini beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan mulai hari ini:

  1. Sebut nama mereka. Jangan cuma bilang 'Pak Satpam' atau 'Bu Cleaning Service'. Tanyakan nama mereka, dan panggil dengan nama. Itu menunjukkan bahwa kamu menganggap mereka individu, bukan objek.
  2. Ucapkan terima kasih secara spesifik. Bukan sekadar 'makasih ya', tapi 'makasih sudah bersihkan ruangan ini, jadi nyaman buat belajar'. Apresiasi yang detail lebih bermakna.
  3. Jangan pernah merendahkan. Hindari kata-kata kasar atau nada perintah yang merendahkan. Ingat, mereka juga manusia yang punya harga diri.
  4. Beri tip atau bantuan kecil. Kalau kamu punya rezeki lebih, sesekali beri tip atau bantuan kecil. Tapi jangan sampai membuat mereka merasa dikasihani.
  5. Libatkan dalam kegiatan. Ajak mereka bicara, tanyakan kabar, atau libatkan dalam acara kampus. Hal kecil seperti itu bisa bikin hari mereka lebih baik.

Dari sisi literasi digital, kita juga perlu bijak menyikapi viralnya video ini. Jangan cuma ikut-ikutan komentar sinis tanpa tahu konteks. Coba cari tahu siapa Rektor UIN Alauddin, apa latar belakang pendidikannya, dan bagaimana sepak terjangnya. Prof. Hamdan Juhannis dikenal sebagai akademisi yang vokal soal pendidikan karakter. Jadi, pesan 'sarjana anak tangga' itu bukan omong kosong belaka.

FAQ: Pertanyaan Warganet yang Sering Muncul

1. Apa sebenarnya maksud 'sarjana anak tangga'?
Istilah ini menggambarkan bahwa sarjana bukanlah orang yang paling tinggi derajatnya, melainkan bagian dari tangga yang menghubungkan berbagai lapisan masyarakat. Mereka harus menjadi jembatan, bukan menindas yang di bawah.

2. Apakah aksi Rektor UIN Alauddin ini hanya pencitraan?
Bisa jadi ada yang menganggap demikian, tapi melihat rekam jejak dan isi pidatonya yang konsisten, ini lebih dari sekadar pencitraan. Ini adalah upaya pendidikan karakter yang jarang dilakukan pemimpin kampus.

3. Bagaimana cara menghargai cleaning service dan satpam di lingkungan kampus?
Mulai dari hal kecil: menyapa, menyebut nama, tidak membuang sampah sembarangan, dan mengucapkan terima kasih. Jika memungkinkan, adakan acara apresiasi khusus untuk mereka.

4. Apakah ada dasar hukum yang mengatur penghormatan terhadap pekerja?
Ya, UU Ketenagakerjaan dan UU Perlindungan Pekerja mengatur hak-hak pekerja untuk diperlakukan secara manusiawi. Menghina atau merendahkan pekerja bisa dikenai sanksi, baik secara pidana maupun perdata.

Jadi, gimana? Sudah siap jadi sarjana anak tangga yang menghargai semua orang? Jangan cuma ikut viral, tapi mulai praktikkan dari sekarang. Karena kesuksesan sejati bukan diukur dari seberapa tinggi jabatanmu, tapi seberapa banyak orang yang kamu angkat bersamamu. Om Lambe pamit, jangan lupa bahagia.