Jagat maya kembali dihebohkan oleh unggahan yang memperlihatkan seorang penumpang Commuter Line diduga buang air besar (BAB) di dalam gerbong KRL relasi Bogor–Jakarta Kota. Momen petugas kebersihan membersihkan kotoran di lantai kereta itu dibagikan akun Threads @ecopot dan langsung ramai dibicarakan warganet.

Yang bikin heboh bukan cuma isinya, tapi juga lokasinya: gerbong KRL yang sedang penuh-penuhnya penumpang. Kejadian ini jadi bahan perbincangan hangat karena menyentuh dua hal sekaligus, yaitu kenyamanan transportasi publik dan kemanusiaan penumpang yang diduga dalam kondisi darurat.

Kronologi Insiden di KRL 1397A

KAI Commuter membenarkan peristiwa ini terjadi di KRL Commuter Line nomor 1397A yang melayani perjalanan dari Bogor menuju Jakarta pada Jumat, 11 September 2026. Petugas menemukan kotoran di lantai kereta, tepatnya di area dekat pintu dan kursi penumpang.

Dalam foto yang beredar, terlihat dua petugas kebersihan berseragam kuning berada di dalam gerbong. Salah satu petugas membersihkan kotoran, sementara rekannya memegang pengki. Petugas yang ada di dalam rangkaian itu langsung melakukan pembersihan agar kondisi kereta kembali bersih dan tidak mengganggu penumpang lain selama perjalanan.

Berdasarkan narasi yang beredar, penumpang yang diduga melakukan hal tersebut adalah seorang pria. Sebagian warganet mengaku ikut mencium bau tak sedap saat berada di rangkaian kereta yang sama, meski detail waktunya belum bisa dikonfirmasi dari pernyataan resmi operator.

Respons KAI Commuter dan Penelusuran CCTV

VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menyatakan pihaknya mengecam keras tindakan yang mengganggu kebersihan dan kenyamanan di dalam kereta. Pihaknya menegaskan akan menindak tegas penumpang yang terbukti melanggar aturan penggunaan Commuter Line.

“Saat ini petugas terkait masih mendalami kejadian tersebut dengan mengumpulkan informasi-informasi yang ada dan melakukan pengecekan CCTV,” ujar Karina dalam keterangan resminya, Sabtu (12/9/2026).

KAI Commuter juga mengingatkan bahwa fasilitas toilet tersedia di seluruh stasiun dan ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau pengguna. Penumpang yang membutuhkan fasilitas toilet diminta memanfaatkannya sebelum melanjutkan perjalanan, bukan setelah kereta berjalan.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi soal sanksi spesifik maupun identitas penumpang yang bersangkutan. Penelusuran masih berjalan lewat rekaman CCTV dan keterangan pengguna di lapangan.

Reaksi Warganet: Antara Kritik dan Empati

Kolom komentar di unggahan Threads itu berubah jadi tempat curhat bertabur cerita kocak. Banyak warganet yang mengaku pernah mengalami pengalaman serupa di KRL, mulai dari perut mulas saat kereta berhenti antar stasiun, sampai cerita teman yang nekat menahan sakit sampai keringat dingin.

Meski dominan kritik soal kebersihan, sebagian warganet memilih menahan tawa dan mencoba memahami sisi manusianya. Argumen yang paling sering muncul: ketika kereta sedang padat, antrean toilet di stasiun tak selalu bisa dijangkau tepat waktu, apalagi kalau gangguan kesehatan datang mendadak.

Terlepas dari pro dan kontra, insiden ini jadi pengingat sederhana bahwa transportasi publik adalah ruang bersama. Satu keputusan yang diambil dalam kondisi panik bisa berdampak besar ke ratusan penumpang lain.