Lagi-lagi Pangalengan, Bandung Selatan, jadi sorotan. Bukan soal keindahan alamnya, tapi soal tarif masuk rumah yang dipakai syuting film horor legendaris 'Pengabdi Setan'. Seorang kreator asal Malaysia, yang lagi liburan ke Indonesia, kaget bukan kepalang saat diminta bayar Rp600 ribu cuma untuk sekadar nge-vlog di lokasi tersebut.
Kejadiannya terekam dalam video yang langsung viral di TikTok. Sang kreator, yang punya jutaan followers, mengaku awalnya penasaran dengan rumah tua yang jadi ikon film besutan Joko Anwar itu. Setelah sampai di lokasi, dia disambut petugas yang langsung mematok tarif fantastis.
Tarif Rp600 Ribu: Hitungan Followers?
Yang bikin heboh, petugas lokasi dengan entengnya bilang kalau tarif itu dihitung berdasarkan jumlah followers TikTok sang kreator. Katanya, semakin banyak followers, semakin besar kontribusinya sebagai 'promosi gratis'. Kreator Malaysia itu pun sempat melongo dan bertanya-tanya, apakah ini praktik umum di Indonesia?
Dalam video yang beredar, terlihat sang kreator mencoba nego, tapi petugas tetap kukuh dengan harga segitu. Padahal, pengunjung biasa mungkin cuma dikenai tiket masuk puluhan ribu rupiah. Perlakuan berbeda ini jelas bikin warganet geram.
Netizen: 'Ini Mah Bukan Kontribusi, Ini Pungli!'
Reaksi netizen langsung meledak. Banyak yang menyebut tindakan petugas itu sebagai pungutan liar (pungli) berkedok 'biaya produksi'. Yang lain menyayangkan, karena kreator asing jadi punya kesan buruk soal wisata Indonesia.
Ada juga yang membandingkan dengan tempat wisata lain yang justru senang kalau dikunjungi kreator karena gratis promosi. 'Malah biasanya dibayar endorse, ini malah minta bayar,' tulis salah satu netizen. Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola lokasi belum memberikan klarifikasi resmi.
Dampak ke Wisata Pangalengan
Insiden ini dikhawatirkan mempengaruhi minat kreator asing untuk berkunjung ke Pangalengan. Padahal, Pangalengan punya banyak destinasi menarik seperti perkebunan teh dan kawah. Jika praktik tarif diskriminatif ini terus terjadi, bukan tidak mungkin citra wisata Bandung Selatan bakal tercoreng.
Pemerintah setempat pun diharapkan segera menindaklanjuti. Pasalnya, aturan tarif masuk seharusnya transparan dan tidak membeda-bedakan pengunjung. Apalagi, kreator konten biasanya justru memberi nilai tambah promosi yang tak ternilai.