Padang, kota canting di Sumatra Barat, kini jadi langganan juara di papan atas kualitas udara terburuk se-Indonesia. Bukan karena asap kendaraan atau pabrik, melainkan kiriman kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di provinsi tetangga. Data terbaru menunjukkan Indeks Kualitas Udara (AQI) di Padang tembus angka 348, masuk kategori 'Berbahaya'. Sekolah-sekolah pun mulai menerapkan Work From Home (WFH) atau belajar dari rumah untuk melindungi siswa.
Kronologi Mencekik: AQI Padang Naik Drastis
Pantauan dari aplikasi pemantau kualitas udara seperti IQAir, sejak pagi tadi konsentrasi PM2.5 di Padang mencapai 348 µg/m³, atau 69.6 kali lipat dari panduan kualitas udara WHO. Angka ini menjadikan Padang sebagai kota dengan polusi udara tertinggi di Indonesia, bahkan mengalahkan kota-kota besar seperti Jakarta yang biasanya lebih sering masuk daftar. Kabut asap ini berasal dari titik panas (hotspot) yang mendominasi wilayah Sumatra Selatan dan Jambi. Angin membawa asap tebal ke arah barat, menyelimuti langit Padang dan sekitarnya.
Reaksi Pemerintah: WFH dan Belajar dari Rumah
Menyikapi kondisi darurat ini, Pemerintah Kota Padang mengeluarkan imbauan tegas. Seluruh ASN dan karyawan swasta diimbau untuk bekerja dari rumah (WFH). Sementara itu, Dinas Pendidikan Kota Padang memutuskan meliburkan sementara kegiatan belajar mengajar tatap muka dan menggantinya dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring. Keputusan ini diambil demi kesehatan para pelajar yang rentan terkena ISPA akibat kabut asap. Beberapa sekolah di Kota Padang juga dilaporkan sudah mulai menerapkan sistem PJJ sejak hari ini.
Netizen & Warga: Panic Buying Masker dan Kritik Pedas
Reaksi warga netizen pun ramai. Banyak yang mengeluhkan sesak napas dan mata perih. Di media sosial, warganet saling berbagi informasi tentang cara melindungi diri. Beberapa toko masker melaporkan penjualan masker N95 dan KF94 meningkat drastis. Tak sedikit yang melontarkan kritik pedas kepada pemerintah pusat terkait penanganan karhutla yang dinilai lambat. Tagar #PadangBerpolusi dan #Karhutla sempat trending di Twitter. Warga berharap hujan segera turun untuk membersihkan udara dan pemerintah lebih serius menangani akar masalah karhutla.
Fakta Ilmiah: Bahaya PM2.5 dan Dampak Kesehatan
PM2.5 adalah partikel halus berukuran kurang dari 2.5 mikrometer yang bisa masuk jauh ke dalam paru-paru dan aliran darah. Paparan jangka pendek bisa menyebabkan iritasi mata, hidung, tenggorokan, batuk, dan sesak napas. Bagi penderita asma, penyakit jantung, dan lansia, dampaknya bisa lebih parah. WHO menetapkan batas aman PM2.5 harian adalah 15 µg/m³. Angka 348 jelas sangat berbahaya. Para ahli kesehatan menyarankan warga untuk tidak keluar rumah tanpa masker, menutup ventilasi, dan menggunakan alat pembersih udara di dalam ruangan.